Kamis, 18 Oktober 2012

Makalah Kewajiban Belajar Mengajar berdasarkan QS.Al-Alaq 1-5 dan Al-Ghasiyah 17-20


Makalah

KEWAJIBAN BELAJAR DAN MENGAJAR
Berdasarkan:QS. Al-Alaq 1-5 Dan Al-Ghasiyah 17-20
Dibuat untuk memenuhi tugas kuliah
Mata kuliah : Tafsir Tarbawi
Dosen Pengampu : Drs Dumairi

Oleh : Kelompok 1
Mazidunni’am
Guntur Tri Mediyanto
Nailurrahman
Laili Amir



INSTITUT ILMU KEISLAMAN ANNUQAYAH
(Instika)
Guluk-guluk Sumenep Madura
Tahun Akademik
2012-2013

Kata Pengantar

Puji syukur ke hadirat allah swt. Yang telah menciptakan manusia dengan ciptaan yang paling sempurna dari makhluk allah yang lain, sehingga tuntutan manusia yang dilengkapi dengan akal adalah menuntut ilmu allah dan menyampaikan/ tabligh kepada orang lain  yang yang telah diwajibkan dalam kalam-kalam-Nya baik yang tersirat maupun tersurat, yang harus di tafsir maupun yang yang sudah jelas.

Shalawat dan salam kepada proklamator islam, seorang penggiring ulung masyarakat jahiliyah  menuju alam berpengetahuan dan religious, dialah tokoh nomor 1 dari seratus tokoh yang paling berpengaruh di dunia (M.h. Hart.)

Makalah ini, “kewajiban belajar mengajar berdasarkan Qs. Al-alaq 1-5 dan Qs. Al- ghasyiyah 17-20”, Alhamdulillah telah bisa disusun dengan mengumpulkan berbagai-macam referensi baik dari media cetak malupun online/internet, yang dengan harapan akan menjadi tambahan bahan bacaan khususnya pada kalangan mahasiswa, kritik dan saran yang merupakan dua cara kuno namun masing sangat ampuh untuk membenahi makalah ini menjadi lebih baik, ditunggu …………!!!

























Bab I
Pendahuluan


A.    LATAR BELAKANG MASALAH
Allah menciptakan manusia dengan penciptaan yang paling sempurna, baik secara fisik, maupun ruhani yang dilengkapi dengan akal, itulah yang membedakan manusia dari makhluk Allah yang lain. Suatu tuntutan yang berlaku bagi semua manusia yang telah diberi nilai ekstra yakni akal adalah untuk difungsikan sebagai media ataupun fasilitas untuk meraih tanda-tanda kekuasaan allah, lalu apakah tugas kita ………?

B.     RUMUSAN MASALAH
Kalam-kalam allah yang tersurat maupun yang tersirat tentang kewajiban balajar dan mengajar adalah kunci jawabannya, surat al-alaq dan al- ghasiyah yang akan dikupas tuntas ini merupakan sebagian yang menandakan pesan-pesan allah untuk melihat tanda- tanda kekuasaan allah dan secara terang-terangan menyuruh manusia untuk balajar dan mengajar.



BAB II
Pembahasan

A.     TENTANG Qs. AL-ALAQ 1-5

a.       QS. AL-ALAQ 1-5 
اقرا با سم ربك الدي خلق 1خلق الانسان من علق 2 اقلرا وربك الاكرم 3 الدي علم بالقلم 4 علم الانسان ما لم يعلم 5       

b.      TERJEMAH                                             
“1.Bacalah dengan menyebut nama tuhanmu yang menciptakan, 2. dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. 3. Bacalah, dan tuham-mulah yang maha pemurah. 4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam (baca-tulis) 5. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

B.     KANDUNGAN SURAT AL-ALAQ AYAT 1 SAMPAI 5
a.       MANUSIA SEBAGAI SUBJEK DAN OBJEK PEMBELAJARAN
Dalam surat yang pertama kali diturunkan kepada nabi Muhammad, manusialah yang mendapat mandat sebagai peserta didik yang diberi pelajaran langsung oleh Allah dan pendidik untuk menyampaikan apa yang telah mereka terima, pernyataan di atas telah dinyatakan dalam penyebutan manusia dalam surat al-Alaq ayat ke-dua dan penyebutan manusia yang ke-dua kali dalam ayat yang ke-lima,ayat tiga diatas mengulangi perintah membaca. Ulamak berbeda pendapat tantang tujuan pengulangan itu. Ada yang menyatakan bahwa perintah pertama ditujukan kepada priadi nabi muhammadsaw, sedangkan perintah pertama ditunjukkan kepada ummatnya, atau yang pertama untuk membaca dalam shalat, sedangkan yang kedua di luar shalat. Pendapat ketiga menyatakan yang pertama perintah belajar,  sedang yang kedua adalah perintah mengajar orang lain. ada lagi yang menyatakan bahwa perintah kedua berfuntsi mengukuhkan guna menenmkan rasa percaya diri kepada Nabi Muhammaad Saw. Tentang kemampuan beliau membaca-karena tadinya beliau tidak pernah membaca.
b.      BAGAIMANA KATA PARA MUFASSIR DAN PAKAR PENDIDIKAN….??
penjelasan di atas sesuai dengan yang dipaparkan oleh Sakip Mahmud, yaitu:
“Penyebutan kata manusia yang pertama, merupakan suatu ketetapan kalau manusialah yang dituju oleh al-Qur’an, manusialah yang diberi keterangan, petunjuk, ketetapan-ketetapan hukum melalui kitab yang diturunkan kepada mereka.” [1]
Manusia yang merupakan sasaran dari pembelajaran juga dipaparkan oleh Ahmad Nurwadjah, yaitu:
“Muhammad berperan sebagai seorang peserta didik, sebab beliau adalah orang yang mencari sesuatu petunjuk dengan jalan kontemplasi dan semangat yang cukup tinggi, peserta didik harus mempunyai semangat mencari ilmu yang cukup tinggi dan
mengawalinya dengan upaya menyucikan jiwa, sehingga muncul dalam dirinya sikap tawadhu’ yang akan memudahkan dirinya dalam pembelajaran.” [2]
Menurut M. Quraish Shihab, manusia merupakan objek dan subjek dari pendidikan, yaitu:
“Pengulangan iqra’ dimaksudkan agar Nabi lebih banyak membaca, menelaah, memperhatikan alam raya serta membaca kitab yang tertulis dan tidak tertulis dalam rangka mempersiapkan diri untuk terjun ke masyarakat.”[3]
Sedang menurut ‘Alauddin Ali bin Muhammad bin Ibrahim al- Baghdadi al-Khozin, manusia yang dimaksud disini yaitu:
Nabi Adam merupakan manusia pertama yang diberi pelajaran oleh Allah menurut satu pendapat, sedangkan menurut pendapat yang lain yaitu nabi Muhammad, Nabi akhir zaman yang diberi wahyu oleh Allah, bukan hanya sebagai peserta didik akan tetapi beliau dituntut menjadi pendidik.”[4]
Hal ini juga dijelaskan oleh Ibnu ‘Abbas, tentang manusia sebagai
subjek dan objek pendidikan, yaitu:
“Manusia yang dididik dalam ayat yang kelima dari surat al-Alaq ini, yaitu nabi Adam yang ditunjukkan dengan surat al-Baqaroh “Wa ‘Allama Aadam al-Asmaa Kullaha” pengajaran Allah kepada Nabi Adam dengan nama-nama barang yang berada di alam jagat raya.”
Aam Amiruddin juga menjelaskan, yaitu:
“Pada ayat yang pertama ini dijelaskan perintah kepada manusia untuk selalu melakukan penelaah, perenungan, riset pada fenomenafenomena yang ada, ayat tersebut disertai dengan bismirabbikallazdi khalaq (dengan nama tuhanmu yang menjadikan) bertujuan agar pelaku dari membaca selalu melakukan kegiatan yang bersifat ilmiah dengan keikhlasan mencari ridha Allah, hal itu bertujuan agar mereka semakin membuat merasa kecil dihadapan Allah dan semakin sadar bahwa ilmu Allah itu sangat luas, tidak terbatas.”
Syeikh abdul-halim Mahmud (mantan pemimpin tertinggi al-azhar mesir) yang menulis dalm bukunya, alqur’an fi syahr al-qur’am bahwa:”dengan kalimat iqra’ bismi rabbiik, al-qur’am tidak sekedar memerintahkan untuk membaca,tapu (membaca)adalah lambing dari segala apa yang dilakukan oleh manusia, baik yang sifatnya aktif maupun pasif. Kalimat tersebut dalam pengertian dan semangatnya ingin menyatakan bacalah demi tuhanmu, bekerjalah demi tuhanmu ”

C.    Qs. AL-GHASYIYAH 1-5

a.       QS. AL-GHASYIYAH 17-20 
افلا ينظلر الابل كيف خلقت 17 والى السماء كيف رفعت 18 والى الجبال كيف نصبت 19 والي الارض كيف صطحت 20

b.      TERJEMAH
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan kepada unta bagaimana ia diciptakan?dan langit, bagaimana ia ditinggikan? dan gunung-gunung bagaiman ia ditegakkan? dan bumi bagaimana ia dihamparkan?”

D.    KANDUNGAN SURAT AL-GHASYIYAH AYAT 17 SAMPAI 20
Dalam kandungan ayat ini Allah SWT mengajak orang-orang yang meragukan kekuasaannya untuk memperhatikan alam raya. Allah berfirman maka apakah mereka tidak memperhatikan bukti kuasa allah yang terbentang di alam raya ini, antara lain kepada unta yang menjadi kendaraan dan bahan pangan mereka bagaimana ia diciptakan oleh Allah dengan sanngat mengagumkan? dan apakah mereka tidak merenungkan tentang langit yang demikian luas dan yang selalu mereka saksikan bagaimana ia ditinggikan tanpa ada cagak yang menopangnya? Dan juga gunung-gunung yang demikian tegar dan mereka bias daki bagaimana ia ditergakkan? Dan bumi tempat kediaman mereka dan yang tercipta bulat bagaiman ia dihamparkan?
Penggunaan kata illa/kepada yang digandeng dengan kata yanzhurun/melihat aatau memperhatikan, untuk mendorong setiap orang melihat sampai batas ahkir yang dituunjuk oleh kata ila itu dalam hal ini unta. Sehingga pandangan perhatian bnar-benar menyeluruh, sempurna dan mantap agar dapat menarik darinya sebanyak mungkin bukti tentang kuasa allah da kehebatan ciptaannya.

a.       ASBABUN-NUZUL
Asbabun_Nuzul ayat 17 Surat Al-Ghasyiyah
Qatadarah Ra. Menegaskan, bahwa ayat ini diturunkan berenaan dengan kaum musyrik yang, tatkala allah menjelaskan cirri-ciri dan kenikmatan surge, merassa takjub dan heran (hr. ibnu jarir dan ibnu abi hatim. Lihat qurthubi: 10/7499 dan addarul mantsur 6/383)

b.      PENDAPAT ULAMA’
Dalam tafsir Al-Munthakh yang disusun oleh satu tim yang terdiri dari beberapa pakar mesir, ayat-ayat diatas dikomentari antara lain sebagai berikut: penciptaan unta yang sungguh sangtat luar biasa menunjukkan kekuasaan allah dan merupakan sesuatu yang perlu kita renungkan.dari bentuk lahirnya, seperti kita ketehui, unta benar-benar memiliki potensi untuk menjadi kendaraan di wilayah gurun pasir. Matanya terletak pada bagian kepala yang agak tinggi dan agak ke belakang, ditambah dengan dua lapis bulu mata yang melindunginya dari pasir dan kotoran. Begitu pula dengan kedua lubang hidung dan telinga yang dikelilingi dengan rambut untuk maksud yang sama. Maka apabila badai pasir bertiup kencang, kedua lubang hidung itu akan tertutup dan kedua telinganya akan melipat ke tubuhnya, meski bentuknya kecil dan hamper tak terlihat. Sedangkan kakinya yang panjag adalah untuk membatu mempercepat geraknya, seimbang dengan lehernya yang panjag pula. telapak kakinya yang lebar seperti sepatu berguna untuk memudahkannya dalam berjalan di atas pasir yang lembut unta juga mempunyai daging tebal di bawah dadanya dan bantalan-bantalan pada persendian kakinya yang memungkinkannya untuk duduk di atas tanah yang keras dan panas. Pada sisi-sisi ekornya yang panjang terdapat bulu yang melindungi bagian-bagian belakang yang lembut dari segala macam kotoran. Dan masih banyak lagi keistimewaanyang dimiliki oleh hewan yang satu ini. Salah satunya adalah dapat bertahan hingga 2 bulan tanpa minum air pada musim dingin


BAB II
Kesimpulan

Dari ulasan panjang lebar tentang 2 surat diatas penyusun dapat menyimpulkan bahwa dalam surah al-alaq allah telah memerintahkan untuk membaca.  Ayat ini menyatakan bahwa manusia dijadikan dari segumpal darah atau menurut pendapat lain ‘alaq (sesuatu yang melekat).

Dengan ayat-ayat ini terbuktilah tentang tingginya nilai membaca, menulis dan berilmu pengetahuan Manusia telah diperintahkan untuk membaca guna memperoleh berbagai pemikiran dan pemahaman. Tetapi segala pemikirannya itu tidak boleh lepas dari Aqidah Islam, karena “iqra`” haruslah dengan “bismi rabbika”, yaitu tetap berdasarkan iman kepada Allah, yang merupakan asas Aqidah Islam.

demikian juaga ayat yang surat al-ghasiyah, dimana allah mengajak orang yang ingkar terhadap kuasanya untuk berfikir menmikirkan ciptaan-ciptaan allah yang sangat luar biasa yakni, bagaiman seokor unta yang mempunyai keistimewaan yang sangat mengagumkan
yang menjadi kendaraan bagi manusia, dan bahan pangan mereka,  bagaimana ia diciptakan oleh allah dengan sanngat mengagumkan. Dan mereka (orang-orang yang ingkar terhadap kekuasaan allah ) untuk merenungkan tentang langit yang demikian luas dan yang selalu mereka saksikan bagaimana ia ditinggika tanpa ada cagak yang menopangnya? Dan juga gunung-gunung yang demikian tegar dan mreka bias daki bagaimana ia ditergakkan? Dan bumi tempat kediaman mereka dan yang tercipta bulat bagaiman ia dihamparkan?
Daftar Pustaka  

Ø  Shihab, M. Quraish, Tafsir al-Misbah Vol. XV, Jakarta: Lentera Hati

Ø  Ahmad Mustafa Al-Maraghi, 1993, Tafsir Al-Maraghi Juz XXX, terjemah oleh Bahrun Abu Bakar, Semarang: TOHA PUTRA.
Ø 
Depag RI, 1990, Al-Qur’an Dan Tafsirnya Jilid X, Yogyakarta: PT. Dana Bakti Wakaf
Ø 
Depag RI, 2007, Al-Qur’an Dan Terjemahannya, Bandung: CV. Diponegoro
















[1] Sakip Mahmud, Mutiara juz Amma, (Bandung: Mizan anggota IKAPI, 2005), hlm 337
[2] Ahmad Nurwadjah, Tafsit Ayat-ayat Pendidikan, (Bandung: MARJA, 2007), hlm 201
[3] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah: Pesan,Kesan danKeserasian al-Qur’an, (Jakarta: Lentera
Hati, 2002),Volume 15 hlm 397
[4] Alauddin Ali bin Muhammad bin Ibrahim al-Baghdadi, op. cit., hlm 461

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar